Tuesday, August 7, 2012

Negara Maju dan Negara Berkembang

Assalamualaikum w.w,
Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang sering diajukan mengenai masalah negara berkembang. Kita tahu Indonesia adalah negara berkembang. Hal tersebut dapat diketahui dari kualitas hidup dan ekonomi yang sedang, bahkan cenderung di bawah rata-rata standar dunia. Lantas, mengapa perlu ada indikator negara maju dan negara berkembang? Inilah pertanyaannya.

Mengapa negara-negara di dunia harus dikelompokkan menjadi negara maju dan negara berkembang?

Memang belum ada jawaban yang memuaskan mengenai dasar pengelompokan, bahkan tidak ada dasar atas pengelompokan tersebut. Divisi Statistik PBB menyatakan, “Penetapan ‘negara maju’ dan ‘negara berkembang’ hanya ditujukan untuk kemudahan statistik.” Tidak ada konvensi resmi untuk penetapan atau pengklasifikasian kedua jenis negara tersebut. Namun, beberapa lembaga seperti IMF dan Bank Dunia telah menetapkan standar pengelompokan bagi kedua jenis negara. IMF sendiri menggunakan sistem klasifikasi fleksibel yang memperhitungkan: (1) tingkat pendapatan per kapita; (2) diversifikasi ekspor; dan (3) tingkat integrasi ke dalam keuangan global.

Secara garis besar, dapat dirangkum bahwa faktor klasifikasi negara maju dan negara berkembang adalah dari tingkat ekonomi (yang dicerminkan oleh angka pendapatan per kapita), tingkat kesehatan, harapan hidup, angka buta huruf, jumlah penduduk miskin, serta angka kematian bayi dan ibu melahirkan. Standar batas penentuan negara maju dan negara berkembang adalah sebagai berikut:

- Pendapatan per kapita lebih dari $5.000;
- Usia harapan hidup lebih dari 60 tahun;
- Penggunaan bahan bakar lebih dari 500 galon per tahun; dan
- Kebutuhan sekitar 2.400 kalori dan 60 gram protein per hari.

Sebenarnya pengelompokan negara menjadi jenis maju dan jenis berkembang adalah guna pemantauan data ekonomi yang lebih baik. Namun, seiring dengan perkembangan kebutuhan SDM, muncul pula indikator yang lebih menilai rakyat, antara lain kesehatan dan angka buta huruf. Inilah peta negara-negara di dunia. Negara berwarna biru muda adalah negara maju, sedangkan negara berwarna kuning dan merah termasuk negara berkembang dan miskin. (Sahara Barat dan Korea Utara tidak dimasukkan ke dalam data.)

Negara-negara maju, sebagai contoh, adalah Belanda dan Australia. Negara-negara berkembang, sebagai contoh, adalah Argentina, Mesir, dan Meksiko. Demikianlah rincian negara-negara maju dan berkembang, serta apa yang mengilhami pengelompokkan.

Apa yang menyebabkan sumber daya manusia di negara berkembang tidak seoptimal negara maju?

Sumber daya manusia adalah salah satu indikator bagi kemajuan suatu negara. Tolok ukur sumber daya manusia adalah kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan rakyat, yang mencerminkan tingkat kecerdasan dan kemampuan insani pada suatu negara. Sebagai contoh, negara yang memiliki tingkat pendidikan akhir manusia rata-rata pada jenjang universitas tentu akan lebih maju, sejahtera, dan cerdas ketimbang dengan tingkat pendidikan akhir manusia rata-rata pada jenjang sekolah dasar atau menengah.

Pada negara berkembang, mayoritas pekerja dari sektor pertanian (agraria) yang kebanyakan dari mereka adalah lulusan sekolah dasar, menengah, atau bahkan tidak pernah menduduki bangku sekolah sama sekali. Sebagai contoh, Indonesia adalah negara berkembang dimana jumlah lulusan universitas hanya sedikit. Ini sangat bertolak belakang dengan lulusan sekolah dasar (SD) yang mencapai puluhan juta jiwa.  Kemudian, sistem perkuliahan, apalagi pendidikan dasar dan menengah, di Indonesia masih sangat buruk. Sarana dan prasarana minim serta kualitas pengajar rendah. Kapankah Indonesia akan maju? Ini yang akan menghasilkan lulusan yang hanya berkecimpung di sektor agraria dan bukan sektor formal, karena sektor formal menuntut tingkat pendidikan akhir yang tinggi. Kebanyakan perusahaan dan lapangan kerja di negara maju melakukannya dan menganut sistem formal.

Sedangkan, dari segi kesehatan, negara-negara berkembang pastinya tidak mampu menyediakan sarana dan fasilitas kesehatan yang memadai. Ini akan berlanjut kepada masalah-masalah kehidupan, seperti rendahnya angka harapan hidup serta kematian bayi dan ibu melahirkan. Afrika Selatan, sebagai contoh, memiliki tingkat prevalensi HIV/AIDS yang tinggi. Ini juga membuktikan bahwa penyakit, terutama yang kronis dan ganas, lebih mudah menyerang penduduk negara berkembang ketimbang negara maju.

Ini tentu saja akan berimbas kepada produktivitas dan daya kerja masyarakat. Tentu saja, semakin tinggi pendidikan sekelompok manusia, semakin besarlah kecerdasan dan kemampuan manusia tersebut untuk menciptakan inovasi yang baru. Sedangkan semakin tinggi usia harapan hidup dan tingkat kesehatannya, semakin tahan lamalah manusia tersebut dan bebas dari penyakit. Ini akan membuat manusia sehat dapat mengelola sumber daya alam yang berlimpah di dunia ini dengan baik.

Apakah Indonesia bisa menjadi negara maju dalam 20 tahun ke depan?
Tentu saja bisa. Indonesia telah memiliki visi jelas ke depan, yakni yang tertuang dalam Visi Indonesia 2030 yang dikembangkan oleh Forum Yayasan Indonesia tahun 2007 lalu. Dalam visi ini dinyatakan bahwa Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi ke-5 dunia setelah Amerika Serikat, China, India, dan Uni Eropa; jumlah penduduk sebesar 285 juta jiwa; PDB Indonesia mencapai $5,1 triliun; dan pendapatan per kapita sebesar $18.000 per tahun. Perwujudan ini dapat direalisasikan sehingga tak kurang dari 20 tahun, atau dengan kata lain 18 tahun saja ke depan, Indonesia dapat menjadi negara maju dengan perekonomian yang kuat.

Namun masalah yang sekarang menghadang adalah kurangnya sarana dan prasarana untuk memperbaiki kemiskinan yang sudah lama berlangsung di Indonesia. Serta keadaan masyarakat Indonesia yang masih tercerai-berai dan belum sepenuhnya bersatu—hal ini ditandai dengan konflik di berbagai daerah yang menghambat persatuan—semakin menghambat pembangunan. Belum lagi kasus-kasus kriminal dan korupsi yang dilakukan warga miskin hingga pejabat kelas atas. Ini sangat menyulitkan negara untuk melakukan transformasi menjadi negara yang bersih lagi maju. Bagaimanakah suatu negara bisa maju jika negara tersebut, apalagi pemerintahannya sendiri, belum bersih?

Sebaiknya lembaga-lembaga pemerintahan (paling tidak dan harus dimulai dari sekarang) sudah mulai membenahi Indonesia ini. Pemerintahan haruslah berdasar kepada keadilan dan kebersihan, jauh dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Selanjutnya, warga dibenahi untuk menjadi lebih baik, beradab, dan cerdas, melalui berbagai sarana, seperti pembinaan perilaku, tata krama, hingga pendidikan formal yang berbasis agama Islam dan kecakapan global serta kearifan lokal. Selain itu, sektor kesehatan dan ekonomi juga harus dibenahi guna memperbaiki taraf hidup masyarakat.

Dengan demikian, Indonesia tidak akan menemui kesulitan untuk menjadi sebuah negara SUKSES dan MAJU dalam 18 tahun mendatang, yakni sesuai dengan Visi Indonesia 2030 yang tertuang. Semuanya harus dikembalikan kepada masyarakat dan manusia itu sendiri, dan manusia sebagai makhluk sosial harus senantiasa membantu sesama dalam kebaikan, persatuan, dan kesatuan. Firman Allah: “Hendaklah kamu menolong dalam kebaikan dan ketakwaan” (Al Maidah/5:2).

Bersatulah dalam pembangunan negara dan masyarakat demi Indonesia yang lebih baik! Insya Allah Indonesia akan menjadi sebuah negara Islam yang sukses dan maju di kemudian hari.

Wassalamualaikum w.w.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment